Tepat hari ini tanggal 27 Rajab selalu menjadi hari yang di peringati sebagai hari Isra' Mi'raj Nabi Muhammad Saw. Peristiwa ini merupakan bukti kekuasaan dan kebesaran Allah Swt bahwa tidak ada hal yang mustahil bagi-Nya.
Pengertian Isra' secara bahasa berasal dari lafadz saroo yang artinya perjalanan malam. Dalam konteksnya adalah perjalanan malam dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha di Palestina.
Seperti yang sama-sama kita ketahui, di dalam alquran terdapat surat yang bernama surat al-Isra'. Sayyid Quthb dalam kitab tafsirnya menyebutkan surat al-Isra' dimulai dengan bacaan tasbih yakni memuji ke-Maha Suci-an Allah Swt, bacaan tasbih ini sebagai gerakan jiwa yang menjurus kepada kedalaman peristiwa Isra' yang amat halus, dan merupakan hubungan antara hamba dengan Tuhan. Perjalanan tersebut menurut ahli tafsir dalam bukunya Taufik Rahman ada yang mengatakan Rasulullah mengendarai 'Buraq' yakni kendaraan yang datang dari surga, seekor burung yang berkaki empat, berbulu putih, dan tingginya melebihi keledai tetapi lebih kurang dari kuda.
Kemudian pengertian Mi'raj berasal dari bahasa Arab yang berarti kendaraan atau alat untuk naik tangga yang bentuk jama'nya ialah 'Ma'arij' yang berarti tempat-tempat naik. Yang di maksud Mi'raj disini ialah tangga yang terbuat dari emas dan perak ciptaan Allah Swt. yang dipergunakan malaikat untuk naik dan turun ke langit dan ke bumi. Hal ini disebutkan dalam alquran surat al-Ma'arij ayat 3-4.
Rasulullah benar-benar melihat Jibril sewaktu naik ke tempat yang lebih tinggi, menuju Sidratul Muntaha yang merupakan titik sentral dari perjalanan mi'raj, dan malaikan Jibril hanya sampai situ menemani Rasulullah, sedangkan Rasul meneruskan perjalanannya sampai terus naik ke tingkat yang lain yang dengan dengan Arsy Allah Swt.
Jadi yang dimaksud Mi'raj adalah perjalan setelah Isra', dengan naik ke tujuh langit hingga tiba di tempat yang paling tinggi yang bernama Sidratul Muntaha dan setelah itu Nabi Saw kembali lagi ke Masjidil Haram.
Ada banyak hikmah dari peristiwa dahsyat yang dialami Nabi Muhammad Saw, salah satunya adalah meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt, serta diwajibkannya shalat lima waktu.




